MENGHISAP
LEM OBAT PENENANG ZAMAN KINI
Lonceng sekolah telah berbunyi. Tanda jam
pelajaran telah usai. Di belakang sekolah terdapat Rama dan Ismail yang sedang
asyik menghisap lem. Lama-kelamaan, Rama dan Ismail makin ketagihan.
Rama : ”Luar biasa nikmatnya kan, Mail.
Hm... Semua galauku terobati.”
Ismail : ”Betul tuh, Rama. Mantap...”
Tanpa sengaja, Maria kawan
sekolahnya kedapatan mereka sedang asyik mengkonsumsi NarKoBa.
Maria : (Monolog) ”Ha? Itu kan? Rama dan Ismail?
Astaga! Nge-lem dia Rupanya. Harus dilaporkan nih ke guru BP.”
Maria pun melaporkan hal tersebut ke
guru BP.
Maria : (mengetuk pintu dan masuk keruang BP)
Guru BP :
”Ya, silahkan masuk, Maria.”
Maria : ”I.. i.. itu Bu, barusan saya
lihat Rama dan Ismail lagi nge-lem di belakang
sekolah sekarang, Bu!” (sambil berbicara
dengan khawatir)
Guru BP :
”Apa...?!” (Dengan wajah terkejut dan
menepuk meja dengan kedua tangannya)
Maria : ”Cepat, Bu. Larang mereka. Sebelum
mereka pergi, Bu!”
Guru BP :
”Iya, ayo kita kesana sekarang.” (Sambil
Bergegas pergi ke
belakang sekolah)
Maria :
”I.. i.. iya Bu!”
Maria dan guru BP pun tiba di
belakang sekolah dan memarahi mereka berdua.
Guru BP :
”Rama! Ismail! Jadi ini ya kelakuan kalian selama di sekolah? Kalian telah menghancurkan nama
sekolah! Cepat!
Pergi keruang BP sekarang!” (Sambil
membentak-bentak dengan keras)
Ismail dan Rama : ”I.. i.. iya, Bu.” (Sambil terbata-bata)
Sesampainya diruang BP.
Guru BP :
”Kalian duduk disini! Ibu tak tau, apa yang kalian dapatkan atas Perbuatan kalian yang Ibu lihat tadi?
Perbuatan kalian benar-benar merusak nama baik sekolah kita! Ajaran
siapa itu?! Tidak sepantasnya pelajar SMP seperti itu!
Ismail :
”Bu, saya minta maaf, Bu. Rama lah yang telah mengajak saya untuk nge-lem, Bu.” (Dengan wajah sedih)
Rama :
”Maafkan saya juga, Bu. Saya memang mengaku salah, tapi entah mengapa setelahterbiasa nge-lem, saya
menjadi ketagihan. Jadinya begini akibatnya. Sekali lagi saya
minta maaf ya, Bu.” (Dengan
nada menyesal)
Guru BP :
”Kalian pikir dengan meminta maaf saja itu cukup untuk membuat masalah
ini selesai, ha?! Saya akan panggil orangtua kalian!”
Ismail :
”Jangan, Bu. Jangan...”
Rama :
”Tolong kami, Bu. Jangan telpon orangtua kami!”
Guru BP :
(Sambil mencari data nomor telepon, lalu
mengangkat teleponnya dan menekan nomor yang
dituju) ”Hallo, ini dengan orangtua
Ismail? Ini saya dari guru BP nya Ismail. Saya mohon kedatangan
Ibu kesekolah sekarang, karena anak Ibu tadi kedapatan menghirup lem berlebihan dibelakang
sekolah. Ok, ok. Saya tunggu kedatangannya sekarang juga.
Iya. Assalamu’alaikum.”(Lalu menutup teleponnya dan segera menelpon
orangtua Rama) “ Hallo, ini dengan orangtua Rama? Saya dari
guru BP nya Rama memberitahu bahwa anak Ibu telah terlibat
suatu kasus di sekolah saat ini. Saya minta Ibu datang
kesekolah sekarang juga, jika tidak anak Ibu akan kami
keluarkan dari sekolah ini! Ya, terimakasih. Assalamu’alaikum.”
Rama :
”Ismail, gimana ni? Aku sangat menyesal dengan perbuatanku ini.” (Sambil
tertunduk lemas)
Ismail :
”Aku juga menyesal, Ram.”
Tak lama kemudian, orangtua Ismail
pun datang kesekolah untuk diproses oleh guru BP
Orangtua Ismail : (Sambil
mengetuk pintu dan mengucapkan salam) “Assalamu’alaikum.”
Ismail : (Monolog) ”Wah,
gawat, mamaku datang.”
Guru BP :
”Ini dari orangtua Ismail?
Orangtua Ismail : ”Ya benar.Saya ibunya Ismail.
Sebenarnya ada apa ya, Bu?”
Guru BP :
”Tadi saya mendapati anak Ibu menghisap lem. Tindakan anak Ibu ini sudah merusak moral. Jadi, saya harap
Ibu bisa lebih memberi perhatian khusus untuknya.”
Orangtua Ismail : ”Apakah benar begitu, Mail?! Sungguh mama
kecewa”
Ismail :
”Sebenarnya, Mail mau berhenti, Bu. Tapi susah.” (Sambil menyesali perbuatannya)
Guru BP :
”Sekarang Ismail, berdiri! Minta
maaf kepada orangtuamu dan buat perjanjian bahwa kamu tidak akan
mengulangi perbuatanmu yang menjengkelkan itu!”
Ismail :
”Iya, Bu.. Ma.. Aku minta maaf. Aku
berjanji tidak akan mengulangi
perbuatanku yang sangat tidak baik ini, Ma. Apakah mama mau memaafkanku?” (Sambil menjulurkan tangannya)
Orangtua Ismail :
”Mama tidak pernah menyangka seperti ini kelakuanmu di sekolah ini. Hal ini benar-benar memalukan.”
Ismail :
”Maafin Mail, Bu.” (Sambil bermohon)
Orangtua Ismail : ”Mulai besok, jangan pernah lagi bikin
malu orangtua. Jaga nama baik mama, Mail. Mama mau memaafkanmu tapi
dengan syarat setelah ini, mama akan membawamu ke pusat
rehabilitasi supaya kamu sembuh. Kamu mau kan, Nak?”
Ismail : ”Iya, Ma. Ismail
janji tak akan mengulanginya lagi.”
Orangtua Ismail : ”Ya sudah. Sekarang kamu juga harus
minta maaf pada gurumu. Berjanjilah Mail, bahwa kamu tidak akan
coren nama baik sekolah dan buktikan kalau kamu anak yang baik!”
Ismail : ”Bu guru, maafkan
Mail ya, Bu.”
Guru BP :
”Kali ini Ibu maafkan. Tapi tidak untuk besok.”
Orangtua Ismail : ”Ya, Bu. Terimakasih. Saya dan anak
saya mau pulang dulu. permisi.”
Guru BP :
”Ya, silahkan.”
Setelah itu, Ismail dan orangtuanya
pun pulang. Sementara itu, orangtua Rama belum kunjung datang. Beberapa hari
kemudian orangtua Rama pun datang.
Orangtua Rama : (Masuk
keruang BP sambil mengetuk pintu) ”Selamat siang, Bu.”
Guru BP :
”Selamat siang. Ini dari orangtua Rama?”
Orangtua Rama : ”Ya, saya sendiri.”
Guru BP :
”Saya dari guru BP nya Rama ingin memberitahu bahwa anak Ibu
kedapatan menghisap lem beberapa hari lalu sepulang sekolah, tepatnya di belakang sekolah.”
Orangtua Rama : ”Ha?! Apakah benar begitu, Bu?” (Sambil terkejut)
Guru BP :
”Ya, benar. Apakah anak anda memang kecanduanmenghisap lem?”
Orangtua Rama : ”Saya sendiri tidak tau. Yang jelas,
ia selalu bilang bahwa dia les gratis disekolah ini.”
Guru BP :
”Sekolah ini belum ada mengadakan les gratis saat ini.”
Orangtua Rama : ”Jadi, saya telah dibohongi?”
Guru BP :
”Ya, bisa dibilang begitu.”
Setelah berbincang-bincang, Rama pun
dipanggil oleh guru BP dan segera menghadapi guru BP diruangannya.
Rama :
”Ada apa, Bu?”
Guru BP :
”Kamu bilang pada orangtuamu bahwa kamu les gratis sepulang
sekolah? Iya, kan?”
Orangtua Rama : ”Rama! Kamu bohong sama mama” (Sambil menunjuk-nunjuk)
Rama :
”e.. e.. maafkan aku, Ma.”
Orangtua Rama : ”Kamu harus janji agar tidak akan menggunakan
menghisap lem lagi! Ingat itu!”
Rama :
”Iya, Ma. Maafkan Rama. Rama berjanji tak akan mengulanginya lagi.” (Sambil
bersedih)
Orangtua Rama : ”Ya, nak. Mama akan memaafkanmu tapi
kamu perjanjianmu itu!”
Rama :
”Baik, Ma.”
Sejak kejadian itu, Rama dan Ismail
insyaf dan menyadari perbuatan itu tidak sepantasnya dilakukan karena membawa
kerugian bagi dirinya sendiri dan orang lain khususnya bagi orangtua.
~TAMAT~